PDI Perjuangan Serukan Jaga Selalu Nafas Kebhinnekaan Indonesia

bambang

PDI Perjuangan menghimbau semua pihak untuk selalu membangun dialog dan aktif melakukan silaturahim guna memperkuat persatuan Indonesia. Semua pihak juga diingatkan untuk selalu menjaga nafas kebhinekaan bangsa serta setia pada hukum dan selalu menjunjung tinggi Pancasila.

“PDI Perjuangan senantiasa berdiri kokoh, dalam berikan dukungan kepada kepemimpinan Indonesia saat ini, berdiri kokoh di belakang Presiden Jokowi untuk terus jalankan proses berdemokrasi, demi keutuhan NKRI dan konstitusi,” kata Bambang Praswanto, Ketua DPD PDI Perjuangan DIY, Kamis, 24/11/2016 di Yogyakarta .

Seruan untuk selalu membangun dialog, disuarakan oleh PDI Perjuangan dengan kepengurusan partai politik yang memiliki 2,3 juta dan anggota partai lebih dari 12,3 juta ini merupakan komitmen bersama untuk mengajak elemen bangsa berjalan pada koridor hukum dalam berdemokrasi.

Bambang Praswanto menambahkan, sejarah mencatat proses penyelesaian jalur hukum sudah ditunjukan parpol yang teguh jaga nilai-nilai demokrasi Pancasila. Ada pengalaman berharga di masa lalu tatkala kantor DPP PDI di Jakarta diserang oleh rezim otoriter kala itu, penyelesaian hukum jadi pilihan.
“Sejarah mencatat, Ibu Megawati setia pada jalan hukum. Jadi jangan coba-coba membuat tindakan inkonstitusional yang akan memecah belah bangsa. Aparat penegak hukum agar bersikap tegas dan tidak mentolelir berbagai tindak inskonstutusional,” kata Bambang Praswanto.

Bambang menambakan, PDI Perjuangan menghimbau semua pihak untuk terus melakukan dialog dan membangun tali silaturahim untuk memperkuat persatuan Indonesia.

Kursus Politik Perempuan Membedah Buku “SARINAH”

IMG-20160614-WA0014

“Soal perempuan adalah soal masyarakat”, demikian Bung Karno menyebutkan di dalam pengantar buku Sarinah. Sebagai ungkapan begitu besarnya arti kedudukan perempuan di dalam susunan masyarakat. Mewakili keadaan umum masyarakat, bilamana keadaan perempuan terkungkung dalam penindasan, maka masyarakatpun juga demikian. 

secara singkat, keadaan perempuan seringkali masih terjebak dalam peran domestik. Hal ini terjadi karena karena suami istri masih belum bersepakat adanya pembagian kerja domestik yang adil diantara mereka. Akibatnya perempuan terbebani dengan pekerjaan memasak, mencuci, membersihkan rumah dan merawat anak seluruhnya menjadi beban perempuan. Di sisi lain, laki-laki memiliki kesempatan lebih banyak untuk mengakses informasi dan saling bertemu dengan rekan-rekannya.
Peran domestik menjadi beban perempuan disebabkan karena adanya relasi kuasa dalam rumah tangga. Tetapi ketika perempuan berkiprah di ranah publik perempuan menghadapi tantangan luar biasa dalam menghadapi masyarakat yang patriarkis. Masyarakat yang masih mengutamakan nilai-nilai laki-laki. Akibatnya perempuan selalu diposisikan sebagai the second sex.
Selain permasalahan sosial, di sisi lain partai politikpun menghadapi tantangan dengan belum terbangunnya system organisasi yang baik. Sehingga kaderisasi yang menjadi tulang punggung partai untuk menyiapkan regenerasi belum berjalan seperti yang diharapkan. Tantangan lain yang dihadapi perempuan untuk bergabung dengan partai politik adalah perempuan dalam partai politik belum diberi kesempatan yang lebih leluasa untuk mengambil peluang politik yang ada. Tetapi perempuanpun mesti melakukan otokritik, yaitu belum ada keinginan untuk maju dan berkiprah dalam politik. Sebagaimana harapan Bung Karno dalam buku itu bahwa peran perempuansangat penting tatkala masa perjuangan kemerdekaan dan pada masa mengisi kemerdekaan Republik Indonesia. Terutama sekali peranan untuk memenuhi tuntunan budi nurani manusia perempuan atas ketidakadilan ekonomi dan politik yang mereka terima. Hal ini tentu dapat menjadi perenungan kita bersama ditengah-tengah liberalisme dan Kapitalisme yang semakin meringsek masuk ke dalam wilayah domestik (rumah tangga) dan wilayah publik.
Ceramah dam bedah buku Sarinah dalam pertemuan pertama Kursus ini akan disampaikan oleh Ibu Eva Kusuma Sundari dari DPR RI dan Ketua Badiklatda DI.Yogyakarta. Demikian sebagaimana yang disampaikan oleh Dr. Hj. Yuni Satia Rahayu selaku selaku Sekretaris DPD PDI Perjuangan DI. Yogyakarta.

Kursus Politik Perempuan Membedah Buku “SARINAH”

Kursus Politik Perempuan Membedah Buku “SARINAH”

Kantor DPD PDI Perjuangan DI.Yogyakarta.
Selasa, 14 Juni 2016 (Jam 8.30 sd. 13.00 WIB)

“Soal perempuan adalah soal masyarakat”, demikian Bung Karno menyebutkan di dalam pengantar buku Sarinah. Sebagai ungkapan begitu besarnya arti kedudukan perempuan di dalam susunan masyarakat. Mewakili keadaan umum masyarakat, bilamana keadaan perempuan terkungkung dalam penindasan, maka masyarakatpun juga demikian.
secara singkat, keadaan perempuan seringkali masih terjebak dalam peran domestik. Hal ini terjadi karena karena suami istri masih belum bersepakat adanya pembagian kerja domestik yang adil diantara mereka. Akibatnya perempuan terbebani dengan pekerjaan memasak, mencuci, membersihkan rumah dan merawat anak seluruhnya menjadi beban perempuan. Di sisi lain, laki-laki memiliki kesempatan lebih banyak untuk mengakses informasi dan saling bertemu dengan rekan-rekannya.
Peran domestik menjadi beban perempuan disebabkan karena adanya relasi kuasa dalam rumah tangga. Tetapi ketika perempuan berkiprah di ranah publik perempuan menghadapi tantangan luar biasa dalam menghadapi masyarakat yang patriarkis. Masyarakat yang masih mengutamakan nilai-nilai laki-laki. Akibatnya perempuan selalu diposisikan sebagai the second sex.
Selain permasalahan sosial, di sisi lain partai politikpun menghadapi tantangan dengan belum terbangunnya system organisasi yang baik. Sehingga kaderisasi yang menjadi tulang punggung partai untuk menyiapkan regenerasi belum berjalan seperti yang diharapkan. Tantangan lain yang dihadapi perempuan untuk bergabung dengan partai politik adalah perempuan dalam partai politik belum diberi kesempatan yang lebih leluasa untuk mengambil peluang politik yang ada. Tetapi perempuanpun mesti melakukan otokritik, yaitu belum ada keinginan untuk maju dan berkiprah dalam politik. Sebagaimana harapan Bung Karno dalam buku itu bahwa peran perempuansangat penting tatkala masa perjuangan kemerdekaan dan pada masa mengisi kemerdekaan Republik Indonesia. Terutama sekali peranan untuk memenuhi tuntunan budi nurani manusia perempuan atas ketidakadilan ekonomi dan politik yang mereka terima. Hal ini tentu dapat menjadi perenungan kita bersama ditengah-tengah liberalisme dan Kapitalisme yang semakin meringsek masuk ke dalam wilayah domestik (rumah tangga) dan wilayah publik.
Ceramah dam bedah buku Sarinah dalam pertemuan pertama Kursus ini akan disampaikan oleh Ibu Eva Kusuma Sundari dari DPR RI dan Ketua Badiklatda DI.Yogyakarta. Demikian sebagaimana yang disampaikan oleh Dr. Hj. Yuni Satia Rahayu selaku selaku Sekretaris DPD PDI Perjuangan DI. Yogyakarta.

PERINGATAN HARI LAHIR PANCASILA 1 JUNI 2016.

DPD PDI Perjuangan DIY memperingati hari lahir Pancasila dengan upacara di depan kantor DPD PDI Perjuangan DIY Badran Yogyakarta. Upacara di mulai pukul 08.30 dengan inspektur upacara Ketua DPD PDI Perjuangan DIY bapak Drs. Bambang Praswanto.,M.Sc.