17 Pengurus DPC Taruna Merah Putih Kota Yogyakarta Dikukuhkan

tm1 tm2 tm3 tm4Sekretaris Jenderal DPP Taruna Merah Putih, Restu Hapsari secara resmi mengukuhkan kepengurusan DPC Taruna Merah Putih Kota Yogyakarta di sela perayaan HUT PDI Perjuangan ke-44 dengan senam bersama Nyawiji Wujudkan Jogja Cerdas Berbudaya.
Tugas pertama yang diberikan kepada seluruh pengurus yang dilantik salah satunya adalah tugas pemenangan pasangan nomor urut 1, Imam Priyono-Achmad Fadli.
“Saya mewakili Ketua Umum, Maruarar Sirait atau Bang Ara, berpesan kepada 17 orang yang dilantik mendapatkan tugas pertama pemenangan Imam Priyono-Achmad Fadli di pilkada Yogyakarta pada pilkada Kota Yogyakarta, Rabu 15 Pebruari nanti,” kata Restu Hapsari, Kamis, 9/2/2017.
Imam Priyono, calon nomor urut 1 yang berpasangan dengan Imam Fadli dalam pilkada Jogja mengajak agar warga Jogja bisa memiliki kegiatan bersama untuk wujudkan Jogja Sehat dan menyalami warga yang ikut .
Turut mendampingi dalam prosesi pelantikan pengurus DPC Taruna Merah Putih Kota Yogyakarta, Yuni Satia Rahayu, Sekretaris DPD PDI Perjuangan DIY, Wirmon Samawi Ketua DPD Taruna Merah Putih DIY.
Sementara susunan pengurus DPC Taruna Merah Putih adalah Emanuel Ardi Prasetya sebagai Ketua dan Wakilnya Bangun Putra Prasetya yang dibantu 11 Ketua Bidang seperti Ideologi, Strategi dan Kaderisasi, Organisasi, Pelajar, Mahasiswa, Pemuda dan Profesional Muda, Pemberdayaan Perempuan, Hubungan Antar Lembaga dan Luar Negeri, Hubungan Agama dan Kepercayaan Kepada Tuhan Yang Maha Esa, Olahraga Minat dan Bakat, Seni Budaya dan Lingkungan, Teknologi Informasi dan Komunikasi, Pemberdayaan Ekonomi Rakyat dan UKM serta Sosial Kemasyarakatan Aksi dan Advokasi.
Restu Hapsari berpesan dengan pelantikan pengurus di tingkat Kota Yogyakarta, pengurus yang ada bisa langsung berkiprah dan melakukan kaderisasi. Termasuk pembentukan pengurus di 14 kecamataan yang ada di Yogyakarta.
“Yogyakarta sebagai kota Pariwisata tentu butuh peran dari kaum muda. Kader Taruna Merah Putih bisa berperan lewat bidang Hubungan Antar Lembaga dan Luar Negeri,” kata Restu.
Rangkaian acara peringatan HUT PDI Perjuangan ke-44 yang diselenggarakan oleh DPD PDI Perjuangan DIY selain diisi dengan senam bersama ribuan warga dari seluruh wilayah kecamatan Yogyakarta, dipentaskan juga tari dan barongsai sebagai simbol komitmen untuk mewujudkan Jogja Cerdas Berbudaya.

Media Centre
PDI Perjuangan

PKI isu musiman saat Pilkada/Pemilu

WhatsApp Image 2017-02-03 at 2.51.14 PM

Konferensi Pers DPD PDI Perjuangan DIY  yang dilakukan pada hari Jumat, 3 Februari 2017 jam 13.00 di Kantor DPD PDI Perjuangan DIY membahas mengenai kondisi terakhir bangsa dan Pilkada Serentak 2017 di DIY dipaparkan oleh Drs. Bambang Praswanto., M.Sc, Ketua DPD PDI Perjuangan DIY dan di moderasi ibu Dr. Yuni Satia Rahayu, Sekretaris DPD PDI Perjuangan DIY.

Pada kesempatan tersebut di uraikan berbagai hal, antara lain :

  1. Isu yang mengkaitkan PDI Perjuangan dengan Partai Komunis Indonesia adalah tidak benar, tidak lebih daripada upaya membangun opini negatif yang dilakukan setiap menghadapi Pemilu / Pilkada.
    Bahwasannya PDI Perjuangan merupakan partai hasil fusi dari lima partai yaitu, Partai Nasional Indonesia, Partai Katolik, Partai Kristen Indonesia, Partai Musyawarah Rakyat Banyak, dan Partai Ikatan Pendukung Kemerdekaan Indonesia. Jadi tidak ada Partai Komunis Indonesia ( PKI). Selama ini PDI Perjuangan  berazaskan Pancasila dan terbukti berkomitmen menjaga pilar bangsa yakni UUD 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia dan Bhinneka Tunggal Ika.
  2. Dalam setiap Pemilu / Pilkada terdapat upaya untuk men-down grade pihak lain dengan berbagai macam cara. Untuk itu PDI Perjuangan dari struktur yang diatas s.d yang dibawah siap menghadapi berbagai upaya tersebut, khususnya terhadap pihak yang anti Pancasila, anti NKRI & anti Bhinneka Tunggal Ika.
  3. DPD PDI Perjuangan DIY siap memenangkan Pilkada di Kabupaten Kulon Progo dan kota Yogyakarta dengan cara gotong royong antar kader.

Bahwasannya pilar komunisme dunia yakni negara Uni Sovyet sudah runtuh, serta Republik Rakyat Tiongkok yang sudah bermigrasi menjadi negara kapitalis yang menunjukkan bahwa paham komunisme sudah tidak memungkinkan lagi hidup di negara manapun termasuk di Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Cara cara fitnah tersebut berkaitan dengan kepentingan politik & ekonomi para pihak yang terganggu dengan era pemerintahan Presiden Jokowi yang terbukti transparan dalam memerangi korupsi, mafia & pungli; yang tidak menginginkan partai penyokong Presiden Jokowi memenangkan Pilkada.

Tetap Satu Komando.

Merdeka!!!

PDI PERJUANGAN RUMAH KEBANGSAAN UNTUK INDONESIA RAYA

hut

Assalamualaikum, Wr,Wb
Salam Sejahtera
Om Swastiyastu
Nama Budaya

Yang saya Homati
Presiden RI, Bapak Joko Widodo
Wakil Presiden RI  Bapak Yusuf Kalla
Ketua MPR yang juga Ketua Umum PAN Bapak Zulkifli Hasan
Ketua Umum PKB Bapak Muhaimin Iskandar
Ketua Umum NASDEM Bapak Surya Paloh
Ketua Umum PPP Bapak Muhammad Romahurmuziy
Ketua Umum HANURA Oesman Sapta Odang
Ketua Umum PKPI Bapak Hendropriyono
Ketua Umum PBNU KH. Said Aqil Siroj
Para Mentri Kabinet Kerja   dan para senior partai

Puji Syukur kita panjatkan ke hadirat Allah Subhanahu Wata’ala sehingga PDI Perjuangan mampu melewati berbagai ujian sejarah selama 44 tahun. Pasang naik dan pasang surut sebagai sebuah partai politik telah kami lalui. Saya sebagai Ketua Umum pada hari ini ingin mengucapkan beribu terima kasih kepada mereka yang memilih berada dalam gerbong perjuangan politik bersama saya. Terima kasih kepada mereka yang tetap setia meski kadang Partai ini mendapat terpaan gelombang yang dahsyat. Mereka selalu ada, tidak hanya ketika Partai ini sedang berkibar, namun justru memperlihatkan kesetiaan saat Partai ini sedang dalam posisi yang sulit.  Ijinkan saya memberikan penghormatan dan penghargaan sebesar-besarnya kepada antara lain Bapak Jacob Nuwa Wea, Bapak Alexander Litaay dan Bapak Mangara Siahaan. Dan masih banyak lagi yang lain, yang tidak bisa saya sebut satu persatu. Mereka tidak hanya ada dalam sejarah hidup saya, namun juga adalah tokoh-tokoh yang berjuang mempertahankan partai ini sebagai partai ideologis. Kesetiaan yang mereka tunjukan sepanjang hidup kepartaian, bagi saya adalah sebentuk kesetiaan ideologis, yang sudah seharusnya dihayati, dijalankan oleh setiap kader Partai.

Hadiri yang saya muliakan,
Dari awal mula saya membangun Partai ini, tanpa ragu saya telah menyatakan dan memperjuangkan bahwa PDI Perjuangan adalah partai ideologis, dengan ideologi Pancasila 1 Juni 1945. Syukur alhamdulillah, pada tanggal 1 Juni tahun 2015 yang lalu, Presiden Jokowi telah menetapkan 1 Juni 1945 sebagai hari lahirnya Pancasila. Artinya, secara resmi negara telah mengakui bahwa Pancasila 1 Juni 1945 sebagai ideologi bangsa Indonesia.

Saudara-saudara,
Peristiwa-peristiwa di penghujung tahun 2015, telah menggugah sebuah pertanyaan filosofis dalam diri saya, cukupkah bagi bangsa ini sekedar memperingati 1 Juni sebagai hari lahirnya Pancasila? Dari kacamata saya, pengakuan 1 Juni sebagai hari lahirnya Pancasila, memuat suatu konsekuensi ideologis yang harus dipikul oleh kita semua, segala keputusan dan kebijakan politik yang kita produksi pun, sudah seharusnya bersumber pada jiwa dan semangat nilai-nilai Pancasila 1 Juni 1945.
Apa  yang terjadi di penghujung tahun 2015 harus dimaknai sebagai cambuk yang mengingatkan kita terhadap pentingnya Pancasila sebagai “pendeteksi sekaligus tameng proteksi” terhadap tendensi-tendensi hidupnya “ideologi tertutup” yang mengancam persatuan dan kesatuan bangsa. Ideologi tertutup tersebut bersifat dogmatis. Ia tidak berasal dari cita-cita yang sudah hidup dari masyarakat, melainkan hanya muncul dari suatu kelompok tertentu yang dipaksakan harus diterima oleh seluruh masyarakat. Mereka memaksakan kehendaknya sendiri; tidak ada dialog, apalagi demokrasi. Apa yang mereka lakukan, hanyalah kepatuhan yang lahir dari watak kekuasaan totaliter dan dijalankan dengan cara-cara totaliter pula, yakni teror dan propaganda sebagai kunci tercapainya kekuasaan.

Syarat mutlak hidupnya ideologi tertutup adalah lahirnya aturan-aturan hingga dilarangnya pemikiran-pemikiran kritis karena yang dikehendaki adalah keseragaman dalam berpikir dan bertindak. Oleh karenanya, pemahaman terhadap agama dan keyakinan sebagai bentuk kesosialan pun dihancurkan, bahkan dimusnahkan. Selain itu, demokrasi dan keberagaman  dalam ideologi tertutup tidak ditolelir, karena kepatuhan total dari masyarakat menjadi tujuan. Para pemimpin yang menganut ideologi tertutup pun memosisikan dirinya sebagai pembawa “self fulfilling prophecy”, para peramal masa depan yang ramalannya pasti terjadi di masa yang akan datang, termasuk dalam kehidupan setelah dunia fana yang notabene mereka sendiri belum pernah melihatnya.

Saudara-saudara
Apa yang saya sampaikan di atas tentang ideologi tertutup, jelas bertentangan dengan Pancasila. Pancasila bukan suatu ideologi yang dipaksakan oleh Bung Karno atau pendiri bangsa lainnya. Pancasila lahir dari nilai, norma, tradisi dan cita-cita bangsa Indonesia sejak masa lalu, bahkan sebelum kemerdekaan. Bung Karno sendiri menegaskan, dirinya bukan sebagai penemu Pancasila, tetapi sebagai penggali Pancasila. Beliau menggalinya dari harta kekayaan rohani, moral dan budaya bangsa Indonesia. Pancasila dengan sendirinya adalah warisan budaya bangsa Indonesia. Apakah ketika Indonesia berumur 71 tahun, lalu sebagian dari kita memilih orang-orang yang tidak mempunyai penglihatan sejarah, bahkan amnesia sejarah. Malah sebagian tanpa ragu terindikasi “menyelewengkan sejarah” demi secarik kekuasaan. Never leave history, saudara-saudara! Saya ajak siapa pun di negeri ini untuk tidak terlibat dalam “proyek”  yang melahirkan generasi buta sejarah, terutama sejarah Pancasila 1 Juni 1945. kita telah melupakan sejarah bangsa? Jangan sekali-kali melupakan sejarah kita.  Terlalu besar yang dipertaruhkan jika Pancasila secara sistematis dihapuskan dari memory kolektif bangsa, hanya demi perebutan kekuasaan politik.

Saudara-saudara,
Pancasila berisi prinsip-prinsip dasar, selanjutnya diterjemahkan dalam konstitusi UUD 1945 yang menjadi penuntun sekaligus rambu dalam membuat norma-norma sosial politik. Produk kebijakan politik pun tidak boleh bersifat apriori, bahkan harus merupakan keputusan demokratis berdasarkan musyawarah mufakat. Dengan demikian Pancasila adalah suatu ideologi terbuka yang bersifat inklusif, tidak totaliter dan tidak boleh digunakan sebagai stempel legitimasi kekuasaan seseorang atau sekelompok orang. Dalam sifatnya sebagai ideologi terbuka Pancasila bersifat aktual, dinamis, antisipasif dan mampu menjadi “leidstar”, bintang penuntun, bagi bangsa Indonesia dalam menghadapi setiap tantangan yang sesuai dengan perkembangan jaman, ilmu pengetahuan, serta dinamika aspirasi rakyat.

Namun, tentu saja “keterbukaan” ideologi Pancasila bukan berarti kompromistis saat menghadapi sesuatu yang bertentangan dengan nilai-nilai dasar yang terkandung di dalamnya. Keterbukaan yang dimaksud bertujuan mengeksplisitkan ide dan gagasan agar menjadi konkret, sehingga tidak kaku dan keras dalam merespon keaktualan problematika yang harus dihadapi bangsa.

Saudara-saudara,
Indonesia diakui sebagai negara demokratis, namun demokrasi yang kita anut dengan Pancasila sebagai “way of life bangsa” telah secara tegas mematrikan nilai-nilai filosofis ideologis agar kita sebagai sebuah bangsa tidak kehilangan arah dan jati diri.
Pancasila, lima sila, jika diperas menjadi Trisila, terdiri dari: Pertama, sosio-nasionalisme yang merupakan perasan dari kebangsaan dan internasionalisme, kebangsaan dan peri kemanusiaan. Kedua, sosio-demokrasi. Demokrasi yang dimaksud bukan demokrasi barat, demokrasi yang dimaksud adalah demokrasi politik ekonomi, yaitu demokrasi yang melekat dengan kesejahteraan sosial, yang diperas menjadi satu dalam sosio-demokrasi.

Ketiga, adalah ke-Tuhan-an. Menjadi poin ketiga, bukan karena derajat kepentingannya paling bawah. Sekali lagi, bukan karena Bung Karno menggapnya sebagai hal yang tidak penting! Tetapi justru sebaliknya, Ke-Tuhan-an adalah dasar spiritual Republik ini. Ke-Tuhan-an merupakan pondasi bagi kebangsaan, demokrasi politik dan ekonomi Indonesia. Tanpa Ke-Tuhan-an bangsa ini pasti oleng, ibarat badan tak berjiwa. Ke-Tuhan-an yang dimaksud adalah ke-Tuhan-an dengan cara berkebudayaan dan berkeadaban, dengan saling hormat menghormati satu dengan yang lain, dengan tetap tidak kehilangan karakter dan identitas sebagai bangsa Indonesia.

Bung Karno menegaskan, “kalau jadi Hindu, jangan jadi orang India. Kalau jadi Islam, jangan jadi orang Arab, kalau jadi Kristen, jangan jadi orang Yahudi. Tetaplah jadi orang Indonesia dengan adat budaya Nusantara yang kaya raya ini.”

Hadirin yang saya hormati, Trisila jika diperas menjadi Ekasila, yaitu gotong royong. Inilah suatu paham yang dinamis, berhimpunnya semangat bersama untuk membanting tulang bersama, memeras keringat bersama untuk kebahagiaan bersama. Kebahagian yang dimaksud adalah kebahagian kolektif sebagai sebuah bangsa, yang memiliki tiga kerangka tujuan: pertama, satu Negara Republik Indonesia yang berbentuk Negara-Kesatuan dan Negara-kebangsaan yang demokratis dengan wilayah kekuasaan dari Sabang sampai Merauke. Kedua, satu masyarakat yang adil dan makmur materiil dan spirituil dalam wadah Negara kesatuan Republik Indonesia. Ketiga, satu persahabatan yang baik antara Republik Indonesia dan semua negara di dunia, atas dasar saling hormat-menghormati satu sama lain, dan atas dasar membentuk satu Dunia Baru yang bersih dari penindasan dalam bentuk apa pun, menuju perdamaian dunia yang sempurna.

Adapun untuk mencapai kerangka tujuan di atas diperlukan dua landasan: landasan idiil, yaitu Pancasila dan landasan strukturil, yaitu Pemerintahan yang stabil.untuk itulah PDI perjuanagan selalu ikut menjaga jalannya pemerintah Presiden Joko Widodo-Jusuf. Keduanya merupakan syarat mutlak atas tanggung jawab sejarah yang harus kita tuntaskan sekaligus sebagai konsekuensi ideologis yang telah saya sampaikan di awal, yang mengakui Pancasila 1 Juni 1945 sebagai ideologi bangsa. Karena itu pula PDI Perjuangan tetap mendukung Pemerintahan Joko Widodo dan Jusuf Kalla sebagai pemerintahan yang terpilih secara konstitusional. Anak-anak saya ini nakal-nakal Bapak Presiden, tapi kalau untuk Bangsa, Jiwa mereka berikan. kalau ada yang macam-macam, Bapak Presiden dan Wakil Presiden panggil kami.

Kader-kader Partai yang saya cintai, hadirin yang saya hormati,

Saya menjabarkan hal-hal di atas dalam forum ini, agar ulang tahun partai yang ke 44 tahun menjadi momen bagi seluruh kader di tiga pilar partai (strukstur, legislatif dan eksekutif) untuk introspeksi diri, untuk menegaskan kembali bahwa PDI Perjuangan tetap memilih jalan ideologis sekaligus menyatakan diri tidak hanya sebagai rumah bagi kaum Nasionalis, tetapi juga sebagai Rumah Kebangsaan bagi Indonesia Raya.

Kepada kader Partai di seluruh Indonesia, saya instruksikan agar tidak lagi ada keraguan, apalagi rasa takut, untuk membuka diri dan menjadikan kantor-kantor Partai sebagai rumah bagi rakyat untuk menyampaikan aspirasi. Saya instruksikan, terutama untuk isu keberagaman dan kebhinekaan, berdirilah di garda terdepan, menjadi tameng yang kokoh untuk mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Saya yakin, TNI dan POLRI akan bersama kita dalam menjalankan tugas ini, dan tidak akan memberi ruang sedikit pun pada pihak-pihak yang anti Pancasila dan anti demokrasi Pancasila. Apresiasi saya kepada TNI-POLRI yang telah berani bersikap tegas dalam menyikapi pihak-pihak tersebut.

Bagi kader Partai yang berada di legislatif dan eksekutif, kalian tidak hanya dibutuhkan negeri ini untuk mempertahankan kesatuan dan kebangsaan. Perlu disadari, terutama bagi kader yang telah mendapat kepercayan rakyat di eksekutif. Saya tahu, kalian, bahkan saya, adalah manusia biasa. Tentu, sebagai manusia biasa kita tidak luput dari kesalahan. Tetapi, sebagai pemimpin harus disadari pula bahwa jabatan yang kalian emban adalah jabatan politik. Kesalahan dalam keputusan politik tidak hanya berdampak bagi diri pribadi dan keluarga. Kesalahan tersebut berdampak pada kehidupan seluruh rakyat. Karena itu, hati-hatilah dalam membuat keputusan-keputusan politik, baik itu berupa perkataan, tindakan, produk politik baik berupa kebijakan politik legislasi, maupun kebijakan politik anggaran.

Kader-kader yang saya cintai,
Luangkan waktu untuk merenung, sudah tepatkah langkah-langkah yang kalian ambil atas jabatan yang telah diberikan oleh rakyat, ataukah justru sebaliknya. Jangan kalian justru menjadi bagian dari orang-orang yang menindas dan menyengsarakan rakyat dengan kekuasaan yang sebenarnya justru merupakan amanah dari rakyat.

Saya tegaskan kembali, sebagai Ketua Umum Partai, instruksi saya kepada kalian adalah mensejahterakan rakyat, bukan sebaliknya! Kebhinekaan harus disertai dengan keadilan dan kesejahteraan sosial bagi seluruh rakyat!

Terakhir, saya ucapkan terima kasih kepada seluruh rakyat Indonesia yang tetap setia membatinkan Pancasila di dalam kehidupan sehari-hari. Kita tidak perlu reaksioner, tetapi sudah saatnya silent majority bersuara dan menggalang kekuatan bersama. Saya percaya mayoritas rakyat Indonesia mencintai Negara Kesatuan Republik Indonesia yang ber-Bhineka Tunggal Ika. Kita akan bersama-sama terus berjuang, kita pasti mampu membuktikan pada dunia, bahwa Pancasila mampu menjadikan keberagaman sebagai kekuatan untuk membangun kehidupan yang berperikemanusiaan dan berperikeadilan.

Bangsa ini sedang berada dalam “struggle to survive’, dalam perjuangan untuk bertahan, bertahan secara fisik dan mental! Bertahan agar tetap hidup, secara badaniah dan mental. Hadapilah tantangan-tantangan yang ada dengan kekuatan gotong royong sebagai kepribadian bangsa. Berderaplah terus menuju fajar kemenangan sebagai bangsa yang sejati-jatinya merdeka. Dengan ridho Tuhan, saatnya kita gegap gempitakan kembali segala romantika dan dinamika, dentam-dentamkan segala hantaman, gelegarkan segala banting tulang, angkasakan segala daya kreasi, tempa segala otot-kawat-balung-wesinya!

Sungguh: kita adalah bangsa berkepribadian Banteng!
Hayo maju terus! Jebol terus!
Kita pasti menang!

Wassalamualaikum Warrahmatullahi Wabarokatuh.
Om Santi Santi Santi Om
Namo Buddhaya
Merdeka !!!

Jakarta, 10 Januari 2017
Ketua Umum PDI Perjuangan
Megawati Soekarnoputri

Pengarahan DPP PDI Perjuangan ke Pilkada Kulon Progo 2017 untuk menang telak

img-20170107-wa0017 img-20170107-wa0018 img-20170107-wa0019 img-20170107-wa0020

Pengarahan yang dihadiri Ketua DPP PDI Perjuangan bapak HM Idham Samawi, Ketua DPD PDI Perjuangan DIY bapak Drs Bambang Praswanto M.Sc, Sekretaris DPD PDI Perjuangan DIY ibu Dr. Yuni Satia Rahayu, Ketua DPRD DIY Yoeke Indra dan seluruh anggota pengurus & fraksi dari DPC PDI Perjuangan Kulon Progo & DPD PDI Perjuangan DIY.

Mengingat kepopuleran calon Bupati Kulon Progo, pasangan no. 2 Dr Hasto Wardoyo & Tedjo dalam laporannya ketua DPC PDI Perjuangan Kulon Progo memasang target menang telak.
Dalam kesempatan pengarahan DPP PDI Perjuangan ke Pilkada Kulon Progo 2017, Ketua DPP PDI Perjuangan bapak HM Idham Samawi menantang untuk bisa mengalahkan prestasi Presiden Jokowi ketika menang mutlak 93% di Pilkada Surakarta beberapa tahun yang lalu untuk bisa dipecahkan rekornya.
Dalam paparannya, rata rata PAC se Kulon Progo berani pasang target kemenangan di angka 70%.
Perihal adanya penolakan Bandara yang mau dibangun di Kulon Progo, di tegaskan bahwa keberadaan Bandara akan menimbulkan multiplier efek di bidang pertumbuhan ekonomi. Bahkan kabupaten tetangga Kulon Progo juga menginginkan di bangunnya bandara di kabupatennya. Sehingga penolakan bandara tidak berdasar dan justru menjadi nilai positif dari pasangan calon no. 2 tersebut.

Hadiah 5 Juta buat pembuat laporan Money Politic untuk Pilkada kota Yogyakarta.

img-20170107-wa0011 img-20170107-wa0007 img-20170107-wa0009

Konferensi Pers Tim Pemenangan pasangan calon Walikota Yogyakarta Imam Priyono & Achmad Fadli di lakukan di kantor DPD PDI Perjuangan DIY, Sabtu 07 Januari 2017.

Dengan dihadiri Ketua DPP PDI Perjuangan bapak HM Idham Samawi, Anggota DPR RI ibu Mu Esti Wijayati, Ketua DPD PDI Perjuangan DIY bapak Drs Bambang Praswanto M.Sc, Sekretasi DPD PDI Perjuangan DIY ibu Dr. Yuni Satia Rahayu, Ketua DPRD DIY Yoeke Indra dan seluruh anggota pengurus & fraksi dari DPD PDI Perjuangan DIY.
Dalam kesempatan itu juga disampaikan bahwa setiap ada laporan masyakarat yang menjadi Laporan Polisi terkait dengan Money Politic, maka akan diberikan hadiah sebesar Rp 5.000.000,-.
Ini untuk tetap menjaga iklim demokrasi yang bersih dari money politic dan mengawal pemerintahan daerah dari kemungkinan korupsi pasca Pilkada.
Setiap kader yang berseberangan dengan garis dukungan yang ditentukan oleh PDI Perjuangan, akan dilakukan tindakan yang tegas.

PDI Perjuangan Serukan Jaga Selalu Nafas Kebhinnekaan Indonesia

bambang

PDI Perjuangan menghimbau semua pihak untuk selalu membangun dialog dan aktif melakukan silaturahim guna memperkuat persatuan Indonesia. Semua pihak juga diingatkan untuk selalu menjaga nafas kebhinekaan bangsa serta setia pada hukum dan selalu menjunjung tinggi Pancasila.

“PDI Perjuangan senantiasa berdiri kokoh, dalam berikan dukungan kepada kepemimpinan Indonesia saat ini, berdiri kokoh di belakang Presiden Jokowi untuk terus jalankan proses berdemokrasi, demi keutuhan NKRI dan konstitusi,” kata Bambang Praswanto, Ketua DPD PDI Perjuangan DIY, Kamis, 24/11/2016 di Yogyakarta .

Seruan untuk selalu membangun dialog, disuarakan oleh PDI Perjuangan dengan kepengurusan partai politik yang memiliki 2,3 juta dan anggota partai lebih dari 12,3 juta ini merupakan komitmen bersama untuk mengajak elemen bangsa berjalan pada koridor hukum dalam berdemokrasi.

Bambang Praswanto menambahkan, sejarah mencatat proses penyelesaian jalur hukum sudah ditunjukan parpol yang teguh jaga nilai-nilai demokrasi Pancasila. Ada pengalaman berharga di masa lalu tatkala kantor DPP PDI di Jakarta diserang oleh rezim otoriter kala itu, penyelesaian hukum jadi pilihan.
“Sejarah mencatat, Ibu Megawati setia pada jalan hukum. Jadi jangan coba-coba membuat tindakan inkonstitusional yang akan memecah belah bangsa. Aparat penegak hukum agar bersikap tegas dan tidak mentolelir berbagai tindak inskonstutusional,” kata Bambang Praswanto.

Bambang menambakan, PDI Perjuangan menghimbau semua pihak untuk terus melakukan dialog dan membangun tali silaturahim untuk memperkuat persatuan Indonesia.