Pidato Ketua Umum PDI Perjuangan dalam HUT RI ke-72.

megawati-soekarno

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
Salam Damai Sejahtera untuk kita semuanya,
Om Swastu Atu,
Namo Budaya

Marilah kita terlebih dahulu pekikan salam nasional kita: Merdeka!!! Merdeka!!! Merdeka!!!

1. Hari ini kita memeringati Kemerdekaan Indonesia yang ke 72.

2. Kemerdekaan sebagai hasil perjuangan revolusi kemerdekaan Indonesia adalah manifesto untuk hidup bebas dari penjajahan; bebas dari penindasan; dan bebas untuk menentukan nasib bangsa sendiri secara berdaulat.

3. Kita paham sepaham-pahamnya bahwa antara Lahirnya Pancasila tanggal 1 Juni 1945 dan Kemerdekaan 17 Agustus 1945 adalah satu nafas kehendak; satu nafas semangat dan satu pernyataan otentik bahwa kita adalah bangsa yang memiliki nasionalisme dan patriotisme yang tinggi.

4. Atas dasar hal itulah, sebelum membacakan teks Proklamasi, Bung Karno menegaskan bahwa hanya bangsa yang berani meletakkan nasib di tangan sendiri, akan berdiri dengan kuatnya.

5. Semangat percaya pada kekuatan sendiri inilah yang menjadi penopang kokohnya republik Indonesia itu. Dengannya ia mampu menghancur-leburkan musuh-musuh revolusi. Dengan semangat itu, ia mampu menggelorakan semangat pengorbanan tanpa henti.

6. Kini kita  yang telah menikmati perjuangan para pendiri bangsa tersebut, khususnya BK, punya tanggung jawab besar untuk membumikan Pancasila dalam semangat pembebasan.

7. Terkait hal tersebut, maka Pancasila dalam semangat pembebasan, BK menegaskan pentingnya tiga soal: Pertama, bagaimana kita benar-benar berdaulat dalam bidang politik. Berdaulat dalam alam pikir kita sebagai bangsa. Berdaulat dalam menggunakan hal-hal positif pembentuk kebudayaan pada taraf yang tinggi, yang berintikan nilai-nilai Pancasila. Berdaulat dalam politik adalah prinsip dasar dari bangsa merdeka agar kita menjadi bangsa pemenang; bangsa unggul, bukan bangsa yang menggantungkan nasibnya pada bangsa lain.

8. Kedua, bagaimana kita hadir sebagai bangsa yang berdikari. Berdiri di atas kaki kita sendiri. Keberdikarian dimulai dari setiap per-kehidupan rakyat. Berdikari dalam pangan, energi, kesehatan, kemampuan membangun rumah bagi rakyat. Berdikari adalah etos kerja bangsa pejuang. Berdikari adalah kepercayaan diri yang bekobar-kobar bahwa kita bukanlah bangsa yang minder dan tunduk pada kehendak bangsa lain.

9. Ketiga, berkepribadian dalam kebudayaan. Kebudayaan adalah jati diri kita. Kebudayaan berkepribadian gotong royong. Kebudayaan yang mengekspresikan seluruh nilai ketuhanan, kemanusiaan, kebangsaan, musyawarah dan keadilan. Kebudayaan yang mencintai tanah airnya. Kebudayaan yang menghikmati daya cipta untuk kejayaan bangsanya.
PERINTAH KETUA UMUM PDI PERJUANGAN, IBU MEGAWATI SOEKARNOPUTRI

1. PDI Perjuangan berdiri kokoh dalam seluruh sejarah perjuangan kemerdekaan bangsa.

2. PDI Perjuangan menempatkan Bung Karno sebagai Bapak Bangsa; Proklamator bangsa; penggali Pancasila dan peletak dasar kepemimpinan Indonesia di Asia Afrika dan Amerika Latin.

3. Kita memberikan penghormatan pada Beliau. Penghormatan dari alam pikir Bung Karno; cara berkebudayaan BK; cara BK dalam mengekspresikan “api nan tak kunjung padam” untuk Indonesia merdeka.

4. Sebagai partai ideologi, kita terus menerus membumikan Pemikiran BK tentang hakekat Partai sebagai obor penerang bagi rakyat; Semangat pembebasan Indonesia Menggugat; Mencapai Indonesia Raya; Lahirnya Pancasila; Penemuan Kembali Revolusi kita dan pemikiran BK lainnya yang begitu jernih sebagai Penyambung Lidah Rakyat Indonesia.
5. Atas dasar hal tersebut, maka Perintah Ibu Ketua umum adalah:

a. Gelorakan dan sosialisasikan Pancasila dalam kebenaran jalan sejarah.
b. Bumikan Pancasila melalui jalan Trisakti.
c. Sosialisasikan jalan menuju masyarakat adil dan makmur dengan menjalankan Pola Pembangunan Semesta Berencana.
d. Kepada seluruh jajaran struktural Partai dari DPP hingga ke DPD, DPC, PAC, ranting dan Anak ranting Partai: jadikanlah PDI Perjuangan sebagai kekuatan pemersatu bangsa. PDI Perjuangan sebagai Rumah Kebangsaan Indonesia Raya. Kita buktikan bahwa Pancasila benar-benar bekerja dari hal-hal kecil, hingga hal-hal fundamental dalam kehidupan berbangsa.
e. Ingatlah bahwa kemerdekaan yang sejati, hanya melalui perjuangan. Perjuangan yang mengambil intisari dari semangat kemerdekaan: percaya pada kekuatan sendiri, dan membangun persatuan yang kokoh dengan rakyat untuk Indonesia Raya.

Dirgahayu Republik Indonesia ke-72.
Jayalah Indonesiaku!

Terima kasih, Wassalamu alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Om Santi Santi Santi Om

Hasto Kristiyanto,
Sekjend DPP PDI Perjuangan

PDI Perjuangan Dorong Penguatan Peran Politik Perempuan

IMG-20170525-WA0013

Peran perempuan dalam dunia politik memiliki posisi strategis termasuk dalam proses pendidikan politik langsung ke masyarakat.
Keberadaan perempuan di dalam politik idealnya bukan hanya memenuhi keterwakilan perempuan dalam legislatif tapi harus bisa berkiprah nyata dalam kehidupan bersama.
“Karena kita dulu hidup di masa orde baru, politik itu kotor. Sejatinya tidak begitu, politik itu menggunakan hati nurani kita, sehingga bermakna baik, ” kata Yuni Satia Rahayu, Sekretaris DPD PDI Perjuangan di saat Rapat Koordinasi Bidang Kesehatan, Perempuan dan Anak di Yogyakarta, Kamis, 25/05/2017.
Yustina Yuyut Satya Indri Astuti, Wakil Ketua Bidang Kesehatan, Perempuan dan Anak DPD PDI Perjuangan DIY menjelaskan Rakorbid bertema “Penguatan Perempuan dalam Sistem Politik Indonesia” yang diselenggarakan di kantor DPD PDI Perjuangan dihadiri oleh perwakilan dari Kota Yogyakarta, Kabupaten Bantul, Kulonprogo, Gunungkidul dan Sleman ini dihadiri juga oleh Sri Rahayu, Ketua Bidang Kesehatan, Perempuan dan Anak DPP PDI Perjuangan dan Maria Stefani Ekowati istri Sekjend PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto.
Yustina Yuyut menyatakan kegiatan rakorbid bukan hanya semata bertujuan pemenangan perolehan suara 2019 tapi langkah partai membuat program kerja agar bisa selalu bersama masyarakat, hadir berjuang bersama.
“Kita harap perempuan sebagai ibu rumah tangga jaga keluarga juga lingkungan agar tidak terpengaruh kelompok garis keras,” kata Yustina Yuyut.
Sri Rahayu, Ketua Bidang Perempuan, Kesehatan dan Anak DPP PDI Perjuangan menyatakan sudah saatnya perempuan tidak hanya fokus pada ranah domestik.
“Gerakan perempuan punya kesempatan berikan pendidikan politik, bukan hanya ikut di belakang layar. Perempuan harus ikut aktif,” kata Sri Rahayu.
Martanti Indah Lestari, S Sos, dari Badan Pemberdayaan Perempuan dan Masyarakat (BPPM) DIY mengingatkan keterlibatan perempuan dalam proses pendidikan sangat strategis karena bisa masuk ke ranah publik yang luas.
“Pemerintah DIY juga banyak beri dukungan untuk pemberdayaan perempuan juga perlindungan perempuan dan anak. Kita terbuka untuk lakukan pendampingan program. Misalnya bagaimana wujudkan desa maupun kampung Pancasila,” kata Martanti.

Prof Syafii Maarif : Bangsa Indonesia Butuh Lebih Banyak Negarawan

Dzikir Kebangsaan Baitul Muslimin Indonesia

Prof Syafii Maarif; Bangsa Indonesia Butuh Lebih Banyak NegarawanIMG-20170525-WA0007

Bangsa Indonesia bisa bertahan lama bahkan hingga ribuan tahun jika dari kader partai politik muncul negarawan di semua bidang baik tingkat desa hingga nasional.
Poin pernyataan tersebut mengemuka dari ceramah Prof Dr Syafii Maarif, mantan Ketua PP Muhammadiyah sekaligus Guru Besar Sejarah dari Universitas Negeri Yogyakarta saat menyampaikan pidato di forum Dzikir Kebangsaan, Pengurus Daerah Baitul Muslimin Indonesia Yogyakarta, Rabu, 24/5/2017.
“Apa beda negarawan dan politisi? Ikuti kebutuhan jangka pendek, pragmatis itu politis. Sementara negarawan adalah sosok yang memikirkan bangsa dan negara untuk ribuan tahun mendatang, lebur di situ. Seorang negarawan pasti politisi, tapi politisi belum tentu negarawan,” kata Syafii Maarif.
Kegiatan Dzikir Kebangsaan yang diselenggarakan di halaman kantor DPD PDI Perjuangan DIY, di Badran Yogyakarta tersebut berlangsung sehari penuh dengan di awali kegiatan semaan Al Quran dari para penghafal Al Quran atau hafidz dari Pondok Pesantren Al Munawir Krapyak Yogyakarta dan lalu diisi dengan orasi kebangsaan oleh Prof Syafii Maarif dengan moderator Zuly Qodir.
Rangkaian acara ditutup dengan dzikir bersama untuk mewujudkan Indonesia yang damai dipimpin oleh Kyai Habib Syakur, pimpinan pondok pesantren Al Imdad Bantul.
Buya Syafii, panggilan akrab guru besar sejarah menambahkan dirinya khawatir dengan kondisi kebangsaan di era sekarang yang tergerus aneka masalah baik dari dalam maupun dari luar. Ada sebagian dari warga bangsa Indonesia yang disebutkan berperilaku tidak bermoral, koruptif dan sebagian ada yang terjebak garis keras.
Syafii Maarif berharap semangat nasionalisme yang telah ditumbuhkan oleh pendiri bangsa bisa terus digelorakan untuk membawa kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia.
Apalagi saat ini, setelah 71 tahun kemerdekaan masih ada yang nasibnya belum beruntung. Saat ada sebagian dari warga kaya raya bisa naik pesawat, yang lain hanya bisa melihat pesawat terbang. Jurang kesenjangan ini harus bisa diatasi lewat hadirnya sosok negarawan yang mengelola negara Indonesia.
“Kita harus bisa meniru apa yang pernah dilakukan oleh Soekarno-Hatta. Ada baiknya lagi bagi kita semua membaca lagi dua buku penting yaitu pidato Hatta tahun 1927 berjudul Indonesia Merdeka juga buku Indonesia Menggugat yang ditulis Soekarno pada 1930, harus kita baca lagi sejarah bangsa ini,” kata Syafii Maarif.
Bambang Praswanto, Ketua DPD PDI Perjuangan DIY menyatakan pelaksanaan dzikir kebangsaan yang dilakukan untuk menyambut bulan Ramadhan ini bertujuan agar bisa menciptakan kedamaian di Yogyakarta dan tanah air pada umumnya.
Dzikir kebangsaan yang melibatkan juga beragam elemen undangan ke tokoh Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama dan pondok pesantren di Yogyakarta menjadi wujud nyata guna menggalang kekuatan bersama untuk mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
“Kita ingin menghadirkan kedamaian, kita bertekad mempertahankan NKRI, Pancasila ideologi negara karena kita yakin Pancasila tidak bertentangan dengan agama dan kepercayaan yang ada. Bhinneka Tunggal Ika kita perlukan, dan sepakat bahwa UUD 1945 adalah kontrak politik yang membawa Indonesia menuju masyarakat yang adil dan makmur,” kata Bambang Praswanto.