Kursus Politik Perempuan Membedah Buku “SARINAH”

IMG-20160614-WA0014

“Soal perempuan adalah soal masyarakat”, demikian Bung Karno menyebutkan di dalam pengantar buku Sarinah. Sebagai ungkapan begitu besarnya arti kedudukan perempuan di dalam susunan masyarakat. Mewakili keadaan umum masyarakat, bilamana keadaan perempuan terkungkung dalam penindasan, maka masyarakatpun juga demikian. 

secara singkat, keadaan perempuan seringkali masih terjebak dalam peran domestik. Hal ini terjadi karena karena suami istri masih belum bersepakat adanya pembagian kerja domestik yang adil diantara mereka. Akibatnya perempuan terbebani dengan pekerjaan memasak, mencuci, membersihkan rumah dan merawat anak seluruhnya menjadi beban perempuan. Di sisi lain, laki-laki memiliki kesempatan lebih banyak untuk mengakses informasi dan saling bertemu dengan rekan-rekannya.
Peran domestik menjadi beban perempuan disebabkan karena adanya relasi kuasa dalam rumah tangga. Tetapi ketika perempuan berkiprah di ranah publik perempuan menghadapi tantangan luar biasa dalam menghadapi masyarakat yang patriarkis. Masyarakat yang masih mengutamakan nilai-nilai laki-laki. Akibatnya perempuan selalu diposisikan sebagai the second sex.
Selain permasalahan sosial, di sisi lain partai politikpun menghadapi tantangan dengan belum terbangunnya system organisasi yang baik. Sehingga kaderisasi yang menjadi tulang punggung partai untuk menyiapkan regenerasi belum berjalan seperti yang diharapkan. Tantangan lain yang dihadapi perempuan untuk bergabung dengan partai politik adalah perempuan dalam partai politik belum diberi kesempatan yang lebih leluasa untuk mengambil peluang politik yang ada. Tetapi perempuanpun mesti melakukan otokritik, yaitu belum ada keinginan untuk maju dan berkiprah dalam politik. Sebagaimana harapan Bung Karno dalam buku itu bahwa peran perempuansangat penting tatkala masa perjuangan kemerdekaan dan pada masa mengisi kemerdekaan Republik Indonesia. Terutama sekali peranan untuk memenuhi tuntunan budi nurani manusia perempuan atas ketidakadilan ekonomi dan politik yang mereka terima. Hal ini tentu dapat menjadi perenungan kita bersama ditengah-tengah liberalisme dan Kapitalisme yang semakin meringsek masuk ke dalam wilayah domestik (rumah tangga) dan wilayah publik.
Ceramah dam bedah buku Sarinah dalam pertemuan pertama Kursus ini akan disampaikan oleh Ibu Eva Kusuma Sundari dari DPR RI dan Ketua Badiklatda DI.Yogyakarta. Demikian sebagaimana yang disampaikan oleh Dr. Hj. Yuni Satia Rahayu selaku selaku Sekretaris DPD PDI Perjuangan DI. Yogyakarta.

Kursus Politik Perempuan Membedah Buku “SARINAH”

Kursus Politik Perempuan Membedah Buku “SARINAH”

Kantor DPD PDI Perjuangan DI.Yogyakarta.
Selasa, 14 Juni 2016 (Jam 8.30 sd. 13.00 WIB)

“Soal perempuan adalah soal masyarakat”, demikian Bung Karno menyebutkan di dalam pengantar buku Sarinah. Sebagai ungkapan begitu besarnya arti kedudukan perempuan di dalam susunan masyarakat. Mewakili keadaan umum masyarakat, bilamana keadaan perempuan terkungkung dalam penindasan, maka masyarakatpun juga demikian.
secara singkat, keadaan perempuan seringkali masih terjebak dalam peran domestik. Hal ini terjadi karena karena suami istri masih belum bersepakat adanya pembagian kerja domestik yang adil diantara mereka. Akibatnya perempuan terbebani dengan pekerjaan memasak, mencuci, membersihkan rumah dan merawat anak seluruhnya menjadi beban perempuan. Di sisi lain, laki-laki memiliki kesempatan lebih banyak untuk mengakses informasi dan saling bertemu dengan rekan-rekannya.
Peran domestik menjadi beban perempuan disebabkan karena adanya relasi kuasa dalam rumah tangga. Tetapi ketika perempuan berkiprah di ranah publik perempuan menghadapi tantangan luar biasa dalam menghadapi masyarakat yang patriarkis. Masyarakat yang masih mengutamakan nilai-nilai laki-laki. Akibatnya perempuan selalu diposisikan sebagai the second sex.
Selain permasalahan sosial, di sisi lain partai politikpun menghadapi tantangan dengan belum terbangunnya system organisasi yang baik. Sehingga kaderisasi yang menjadi tulang punggung partai untuk menyiapkan regenerasi belum berjalan seperti yang diharapkan. Tantangan lain yang dihadapi perempuan untuk bergabung dengan partai politik adalah perempuan dalam partai politik belum diberi kesempatan yang lebih leluasa untuk mengambil peluang politik yang ada. Tetapi perempuanpun mesti melakukan otokritik, yaitu belum ada keinginan untuk maju dan berkiprah dalam politik. Sebagaimana harapan Bung Karno dalam buku itu bahwa peran perempuansangat penting tatkala masa perjuangan kemerdekaan dan pada masa mengisi kemerdekaan Republik Indonesia. Terutama sekali peranan untuk memenuhi tuntunan budi nurani manusia perempuan atas ketidakadilan ekonomi dan politik yang mereka terima. Hal ini tentu dapat menjadi perenungan kita bersama ditengah-tengah liberalisme dan Kapitalisme yang semakin meringsek masuk ke dalam wilayah domestik (rumah tangga) dan wilayah publik.
Ceramah dam bedah buku Sarinah dalam pertemuan pertama Kursus ini akan disampaikan oleh Ibu Eva Kusuma Sundari dari DPR RI dan Ketua Badiklatda DI.Yogyakarta. Demikian sebagaimana yang disampaikan oleh Dr. Hj. Yuni Satia Rahayu selaku selaku Sekretaris DPD PDI Perjuangan DI. Yogyakarta.

PERINGATAN HARI LAHIR PANCASILA 1 JUNI 2016.

DPD PDI Perjuangan DIY memperingati hari lahir Pancasila dengan upacara di depan kantor DPD PDI Perjuangan DIY Badran Yogyakarta. Upacara di mulai pukul 08.30 dengan inspektur upacara Ketua DPD PDI Perjuangan DIY bapak Drs. Bambang Praswanto.,M.Sc.