27 Menit Bersama Wagub DKI Jakarta : Djarot Saiful Hidayat

wagub6

Kesahajaan Djarot Saiful Hidajat, mantan walikota Blitar yang pernah mendapatkan penghargaan sebagai walikota terbaik di Indonesia yang kini menjadi wakil Ahok di DKI.

27 Menit Bersama Wagub DKI Jakarta : Djarot Saiful Hidayat

Seperti biasa siang itu dgn ditemani asisten, aku naik bajaj dr jalan merdeka utara ke jalan merdeka selatan khusus unt bertemu senior sekaligus guru politikku. Dikantor Balaikota Gubernur DKI Jakarta :

“Selamat siang Pak Wagub, mohon ijin melaporkan perkembangan situasi politik terakhir DKI Jakarta”

“Monggo mas, ada perkembangan apa ?” Tanya pak Wagub DKI Djarot Saiful Hidayat ini sambil mempersilakan duduk.

“Mohon ijin lapor sehubungan dengan statemen deklarasi Teman Ahok,” kataku dgn hati-hati.

“Maksudnya Teman Ahok ? Saya juga teman Ahok, sahabat kental malah …” Katanya tanpa beban. Sambil memberanikan diri aku tunjukan gambar deklarasi Ahok-Heru besutan Teman Ahok dari hape yang aku bawa. Aku amati betul reaksi wajah mantan walikota terbaik Indonesia dari Blitar ini. Agak lama beliau mengamati gambar tersebut tapi ekspresinya tak berubah dan tetap tenang. Tak lama kemudian dia tersenyum dan berkata “Bagus …” Entah apa maksudnya bagus itu, aku tak berani bertanya macam2 hanya pertanyaan pendek yang aku ajukan. “Ada perintah … ?”

“Ucapkan selamat dan sukses kepada Pak Basuki Cahaya Purnama dan Pak Heru, sebagai bacalon Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta.” Ucap Panglima pemenangan Jokowi-Ahok pada pilkada 2012 ini dengan ekspresi yang tetap cool dan kalem.

“Ada perintah politik ?” Aku bertanya dgn sedikit tegang.

“Tetap bekerja seperti biasa, bekerja untuk sebesar2nya kemakmuran rakyat, monitoring jangan sampai ada penyimpangan uang rakyat !!!” Katanya tanpa ragu. “Tugas kita bukan untuk memperebutkan jabatan, bukan pula untuk mengejar sensasi ingin mengukir sejarah. Karena sejarah tdk unt dikejar tp terukir dengan sendirinya oleh kerja sekeras-kerasnya kerja dan dengan setulus-tulusnya hati. Bekerja saja seperti biasa, rakyat tak butuh kegaduhan politik. Jaga ketenangan rakyat DKI, jaga kepercayaan rakyat kepada pemimpin mereka. Termasuk kepercayaan kepada pak Ahok, karena hanya dengan kepercayaan itulah pemerintahan bisa bekerja dengan baik guna mensejahterakan mereka.” Lanjut pria Jawa kelahiran Sulawesi ini dengan serius. “Bisa dimengerti ya mas ?” Tanya beliau. “Siap, bisa dimengerti …” Jawabku meski sebenarnya belum mengerti bagaimana bisa seorang Ketua Bidang Organisasi Dewan Pimpinan Pusat Partai Pemenang Pemilu yang punya pengaruh sangat besar secara politik baik keluar atau kedalam partainya tetap cool dan tdk ada ekspresi kecewa apalagi marah dicampakan oleh segelintir orang yang mengaku Teman Ahok. Teman yang dengan sadis memaksa memisahkan dua sahabat Ahok dan Djarot. Sebenarnya aku siap berucap pamit namun kedahuluan beliau bertanya, “Sudah sholat dzuhur mas ?” “Sudah pak Haji… ” kataku dgn nada sedikit bergurau unt mencairkan keteganganku sendiri. “Ha ha ha … Iya suka-suka lupa kalau saya haji,” jawabnya polos sambil berujar, “Sik tak tinggal dzuhur sik diluk ya, gak kroso rek ngobrol ngasek arep ashar.” Dgn logat Jawa Timurnya yang kental. Meski ruang kerja Wagub DKI itu besar namun tampaknya tak didesign ada room khusus unt ibadah sehingga dari kejauhan aku bisa melihat beliau sholat. Melihatnya bersujud dan bertafakur, disitu hatiku teriris-iris. Dalam hatiku berkata “Ya Allah berikanlah jalan terang kemudahan bagi beliau dalam langkah2 pengabdiannya,” Hatiku menjerit bagaimana bisa orang yg dulu berjuang keras, mati-matian dan bertanggung jawab thd pemenangan Jokowi-Ahok sbg Ketua DPD PDI Perjuangan DKI Jakarta waktu itu, yg bekerja dalam senyap tanpa pemberitaan. Kini dicampakan dan dilecehkan seolah tak pernah punya andil apapun yang layak diperhitungkan oleh orang2 yang diperjuangkannya sendiri. Ingin rasanya aku memaki semua orang2 itu. Tapi sekali lagi sepertinya beliau bisa menebak jalan pikiranku sehingga berpesan sembari mengantarku keluar ruangan, “Mas, pemimpin yang tegas, antikorupsi itu standart. Kita semuanya begitu, kalau tdk segera dicomot KPK. Tp kedepan rakyat butuh yang lebih dari sekedar itu. Rakyat butuh suri tauladan,” seakan menyindir jalan pikiranku yang pemarah belum bisa ditauladani. “Ok besok klo ada waktu mampir lagi, ngobrol lagi tentang ketauladanan.” “Siap, jalankan politik ketauladanan,” ujarku sambil berpamitan. “Ha ha ha, iso ae awakmu opo2 dikaitke mbek politik… Hem hem,” katanya dgn tawa dan gaya khas pria sederhana berkumis ini. Dalam perjalanan pulang aku merenung, ya benar kita memang minim ketauladanan. Pemimpin yang tdk saja antikorupsi, terampil, berpengalaman dalam tatakelola pemerintahan namun juga bisa menjadi suri tauladan dalam kehidupan keseharian kita.

Jakarta, Senin 7 Maret 2016 Sahabat Djarot