PDIP: Persatuan Kesatuan Bangsa di Atas Segalanya

Rakyat Merdeka di Dalam Menentukan Pemimpinnya

1). PDI Perjuangan menegaskan bahwa kekuasaan dalam politik bukanlah segala2nya dan bukan hal yang harus didapatkan dengan segala cara. “Kekuasaan itu hanyalah alat, guna menciptakan seluruh kebijakan dan program agar tercapailah cita2 masyarakat adil dan makmur. Dan dalam memeroleh kekuasaan itu, rakyatlah yang berdaulat. Rakyat merdeka di dalam memilih pemimpinnya”, ujar Hasto Kristiyanto, Sekjen DPP PDI Perjuangan
2). Pernyataan tersebut disampaikan melihat pilkada serentak kini sering menampilkan ambisi kekuasaan yang luar biasa, sehingga berbagai cara pun dilakukan, bahkan sampai ada yang berpikiran sempit memanipulasi daftar pemilih tetap, menggunakan alat penyelenggara pemilu yang seharusnya netral, politik uang, hingga menghilangkan hak pilih warga. “PDI Perjuangan sangat prihatin terhadap praktik politik menghalalkan cara tsb. Ambisi orang per orang dan kelompok menjadi begitu dominan, dan merusak keadaban politik kita, sampai ada tokoh nasional berbicara tentang identitas pemimpin hanya dari air minumnya dari mana, dan makan daging dari mana, kamu sukunya apa. Padahal yang namanya restoran Padang pun telah diterima menjadi identitas makanan nasional yang begitu lezat, tanpa bertanya bahwa itu makanan dari mana. Orang Sumatera Utara, Papua, Jawa, Bugis dll bisa diterima secara luas di seluruh penjuru nusantara dan hidup rukun sebagai bangsa. Namun mengapa ada yg berpikiran begitu sempit dan mengaburkan kenyataan bahwa Indonesia lahir untuk semua, untuk semua suku, semua warga bangsa tanpa membedakan suku, agama, status sosial, jenis kelamin dan pembeda lainnya. Persatuan dan kesatuan bangsa di atas segalanya”
3). Lebih lanjut Hasto menegaskan bahwa menang atau kalah dalam pilkada bukanlah kiamatnya demokrasi. “Ibu Megawati selalu berpesan bahwa menang dan kalah hanya 5 tahun. Kalah kita perbaiki diri dan menang jangan korupsi. Lalu kenapa banyak yang menjadikan pilkada sebagai pertarungan hidup mati sehingga keadaban pun dikorbankan? Kenapa hanya demi kekuasaan lalu memertaruhkan segalanya, termasuk kehendak bersama sebagai bangsa ber Pancasila. Maka sebaiknya, semua pihak memerjuangkan kualitas demokrasi dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Jangan pernah memprovokasi rakyat dengan pemikiran sempit, apalagi kerdil”
4). Demokrasi harus menjadi ukuran peradaban politik Indonesia.

Hasto Kristiyanto
Sekjen PDI Perjuangan

PDI Perjuangan: Indahnya Silaturahim Para Pemimpin

PDI Perjuangan: Indahnya Silaturahim Para Pemimpin

Idul Fitri Perkuat Persaudaraan Nasional

1). Megawati Soekarnoputri dalam merayakan Idul Fitri 1439H menyiapkan secara khusus, tidak hanya menu makanan khas Nusantara, seperti Soto, mie bebek; menu identitas lebaran seperti Kupat, Opor ayam, dan sambal goreng pun tak lupa menyertainya. “Pada kesempatan tersebut, Ibu Megawati Soekarnoputri menerima kunjungan Bapak Wakil Presiden, Jusuf Kalla, dan suasana sangat akrab sehingga silaturahim berjalan hampir 1 jam lamanya. Demikian halnya menteri2 kabinet kerja, Panglima TNI, Kapolri, Jaksa Agung, dan Kepala BIN. Pada sore hari, Ibu Megawati menerima Bapak Presiden Jokowi beserta keluarga. Semua begitu akrab dan menggambarkan bahwa Idul Fitri tidak hanya hari kemenangan setelah satu bulan lamanya menjalankan ibadah puasa; Idul Fitri telah menjadi peristiwa kebudayaan, dan mampu merajut tali silaturahim nasional”
2). Bapak Presiden Jokowi secara khusus menyempatkan diri hadir sebelum perjalanan Beliau ke Solo. “Pertemuan antara Presiden Jokowi dengan Ibu Megawati berlangsung sekitar 1 jam. Suasana penuh kehangatan dan kehadiran Ibu Iriana menambah keakraban. Betapa Indahnya silaturahim antar pemimpin. Perayaan Idul Fitri sungguh2 memperkuat persaudaraan nasional”
3). Dalam pesannya, Megawati Soekarnoputri menyampaikan harapannya agar Peringatan Hari Raya Idul Fitri benar2 memerkuat persaudaraan sebagai bangsa. “Dengan saling maaf memaafkan, maka kesejatian kita sebagai bangsa yang berjiwa gotong royong, toleran dan mengedepankan musyawarah terus kita perkuat. Idul Fitri ini adalah gambaran nyata, bagaimana masyarakat penuh dengan suka cita saling bermaaf-maafan, ber halal bi halal. Inilah sejatinya peradaban kita”, ujar Megawati.
4). Selamat hari raya Idul Fitri 1439 H

Eriko Sotarduga
Wakil Sekjen PDI Perjuangan

Bu Mega : Milih Cawpres Harus Dengan Nurani Jernih

Jokowi-Mega Bahas Narasi Indonesia Raya

1). Ditengah-tengah kesibukan memantau Mudik Lebaran, Presiden Jokowi dan Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri, kemarin, Selasa 12 Juni, kembali mengadakan pertemuan intens selama 2 jam 10 menit, dimulai pada pukul 17.10 hingga 19.20. “Pertemuan dalam suasana sangat akrab dan berulang kali kedua pemimpin tersebut tertawa lepas menggambarkan hangatnya pertemuan di Batu Tulis tersebut. Pertemuan diselingi buka puasa bersama, dan seperti kebiasaan sebelumnya, Ibu Megawati secara khusus menyiapkan sajadah untuk Pak Jokowi untuk keperluan Beliau menjalankan sholat Maghrib”, ujar Hasto Kristiyanto
2). Pertemuan ini merupakan tindak lanjut dari pertemuan sebelumnya dan kali ini secara khusus membahas narasi kemajuan Indonesia Raya. “Ibu Megawati memberikan apresiasi kepada Bapak Jokowi bahwa mudik lebaran berjalan lancar. Kerja, kerja dan kerja terbukti menjadi jawaban paling tepat di tengah berbagai kritikan. Hasilnya sudah terbukti, infrastruktur untuk mengenjot pertumbuhan ekonomi ke depan telah dibangun dengan baik”
3). Adapun menu buka puasa yang disajikan antara lain tumis bunga pepaya, udang saus padang, ikan sukang bakar, sayur asem, dan asem2 iga. Dengan tertawa riang, Megawati memberikan es kelapa muda sebagai makanan pembuka lengkap dengan sirup merahnya. “Ini kelapa muda merah putih, biar semangat merah putih terus bergelora dalam diri Pak Jokowi, apapun tantangan yang dihadapi”, ujar Megawati, sambil menegaskan bahwa merah putih ini telah menjadi lambang bendera Majapahit, Sang Saka Getih-Getah Samudra, atau Sang Saka Gula Kelapa.’’
4). Pertemuan di Istana Batu Tulis tersebut sekaligus membahas sejumlah hal strategis. Berkaitan dengan siapa cawapres yang akan mendampingi Pak Jokowi, Ibu Megawati Soekarnoputri memberikan masukan agar segala sesuatunya dilakukan dengan pertimbangan matang, dan terus melakukan kontemplasi agar benar-benar memahami aspirasi rakyat Indonesia, sambil memohon petunjuk dari Tuhan Yang Maha Kuasa. “Presiden dan wakil presiden itu merupakan pemimpin rakyat, pemimpin bangsa dan negara. Semua harus dipersiapkan dengan matang, dengan pertimbangan nurani yang jernih. Siapapun yang ditetapkan sebagai Cawapres ke depan, maka Pak Jokowi dan calon wakilnya merupakan satu kesatuan. Momentumnya dilakukan pada saat yang tepat”, kata Megawati.
5). Pertemuan tsb diakhiri dengan foto bersama dengan latar belakang lukisan Bung Karno, Proklamator dan Penyambung Lidah Rakyat Indonesia.

Hasto Kristiyanto
Sekjend PDI Perjuangan

Pancasila harus jadi “The Way of Life”

 

Hari Lahirnya Pancasila harus disertai narasi rasa cinta tanah air, bangga dengan jati diri bangsa sendiri, bukan bangsa lain.

 

Peringatan Hari Lahirnya Pancasila setiap tanggal 1 Juni menggambarkan satu tekad, satu semangat, dan satu dasar tentang Indonesia Raya.

 

Hal tersebut disampaikan Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto dalam rangka peringatan Hari Lahirnya Pancasila di Jakarta, Jumat (1/6).

Hasto mengatakan, Indonesia Raya berdiri kokoh di atas Sila Ketuhanan, Kemanusiaan, Persatuan Indonesia, Musyawarah, dan Keadilan Sosial. Kesemuanya diperas menjadi satu, yakni Gotong Royong.

 

“Peringatan Hari Lahirnya Pancasila ini semakin memerkuat kesadaran berbangsa, bahwa Pancasila tidak hanya menjadi dasar dan tujuan berbangsa dan bernegara, namun Pancasila harus menjadi the way of life dalam seluruh kehidupan kita bersama,” ujarnya.

 

 

Hasto menambahkan, memeringati Hari Lahirnya Pancasila harus disertai narasi rasa cinta kepada tanah air, dengan  bangga dengan jati diri bangsa sendiri, bukan bangsa lain.

 

“PDI Perjuangan terus mendorong semangat patriotisme ini. Tidak ada bangsa besar, tanpa api perjuangan yang menyala-nyala untuk bangsa dan negaranya sendiri. Kuncinya kuasai ilmu pengetahuan dan teknologi; kembangkan riset dan terus berjuang menjadi bangsa berdikari dengan topangan kebudayaan kita sendiri. Semangat berdikari hanya bisa terjadi apabila kita mencintai tanah air dengan sepenuh hati,” kata Hasto.

 

Dalam kesempatan itu, Hasto mengatakan PDI Perjuangan berharap agar seluruh komponen bangsa dapat membumikan Pancasila sebagai jati diri bangsa dan perekat keberagaman bangsa Indonesia yang begitu majemuk.

 

“Jadilah Pancasilais sejati yang menjunjung tinggi jati diri bangsa, bukannya menjunjung tinggi jati diri bangsa lain,” katanya.

 

Hari Lahir Pancasila, kata Hasto, harus dipahami seluruh jiwa dan semangatnya dengan memelajari Pidato Bung Karno pada tanggal 1 Juni 1945.