PDI Perjuangan: Pertemuan Jokowi-Prabowo Positif, Perkuat Tradisi Musyawarah Demi Persatuan Indonesia

Musyawarah Untuk Persatuan Indonesia Implementasi Demokrasi Pancasila

1). PDI Perjuangan memberikan apresiasi dan mengungkapkan rasa gembiranya atas pertemuan Pak Jokowi dan Pak Prabowo di Stasiun MRT, Jakarta. “Pertemuan tersebut menjadi ukuran peningkatan kualitas demokrasi di Indonesia. Sebab Pemilu Presiden sudah selesai. Dengan pertemuan kedua pemimpin, PDI Perjuangan semakin meyakini bahwa jalan musyawarah demi persatuan Indonesia adalah pembumian penting dari demokrasi Pancasila”

2). Implikasinya, ketika Pak Jokowi dan Pak Prabowo bertemu, dalam suasana penuh kegembiraan disertai pemberian ucapan selamat secara langsung dari Pak Prabowo ke Pak Jokowi, maka sesuai kultur politik di Indonesia, hal tsb akan membawa suasana positif di tingkat grass roots. Kini semua berproses pada jalan yang sama: memerkuat semangat Merah Putih. “Saya mendampingi Ibu Megawati Soekarnoputri dengan melihat siaran langsung atas pertemuan tsb. Beliau menyampaikan rasa syukurnya, dan sejak awal percaya kenegarawanan Pak Prabowo, sama halnya dengan keyakinan Ibu Megawati mengapa konsisten memberikan dukungan ke Pak Jokowi karena kepemimpinannya yang merangkul, berdialog dan berdedikasi bagi bangsa dan negara Indonesia”

3). Dengan pertemuan tsb, maka PDI Perjuangan semakin optimis terhadap arah masa depan bangsa dan negara. “Yang lebih menggembirakan kami adalah bahwa demokrasi Pancasila bekerja baik. Gotong royong, musyawarah-mufakat, persatuan Indonesia, dan keluhuran budi para pemimpinnya telah menjadi modal bagi bangsa Indonesia untuk berdemokrasi dengan kultur Indonesia, yakni berdemokrasi dengan hikmat kebijaksanaan untuk kemajuan Indonesia Raya”

4). Ketika persatuan para pemimpin berproses menjadi persatuan nasional seluruh warga negaranya, maka hal tsb menjadi momentum penting bagi bangkitnya spirit dan kehendak nasional untuk berkemajuan bagi tanah air tercinta.

Hasto Kristiyanto
Sekjen PDI Perjuangan

Megawati Soekarnoputri: Duka Cita Mendalam Atas Wafatnya Alm Sutopo , Pejuang Sosial Kemanusiaan

Agar Pemerintah Berikan Penghormatan Terbaik

Ketua Umum DPP PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri di tengah lawatannya di Beijing menghadiri The World Peace Forum ke 8, secara khusus menyampaikan duka cita yang mendalam atas wafatnya Alm Sutopo.

“Alm Sutopo, Humas BNPB tidak hanya sosok humanis yang tetap setia menjalankan tugas meski sedang sakit. Bagi saya, Beliau adalah pejuang sosial kemanusiaan”, ujar Megawati di Beijing, Minggu (7/7).

Megawati Soekarnoputri tercatat sebagai Presiden yang memiliki kesejarahan kuat dengan sejarah pendirian Badan Nasional Penanggulangan Bencana.

“Sejak awal ketika menjalankan tugas sebagai Wapres, saya sudah melihat bagaimana Indonesia berada di daerah yang rawan bencana karena merupakan lintasan ring of fire, maka departemen sosial yang dibubarkan alm Gus Dur saat itu, saya transformasikan Bakornas Penanggulangan Bencana dan Penanganan Pengungsi, yang kemudian menjadi cikal bakal BNPB,” papar Megawati.

Bagi Megawati, sosok Alm Sutopo seorang yang gigih, tidak luntur dalam harapan meskipun sakit. “Dalam situasi krisis ketika tanggap darurat terjadi, Alm Sutopo mampu menjadi jembatan penghiburan, membangun harapan di tengah korban bencana, dan membantu menentramkan masyarakat melalui fungsi kehumasan yang dijalankan dengan sangat baik. Informasi terkait penanganan tanggap darurat, bantuan ke korban, dan juga berbagai upaya yang dilakukan BNPB disampaikan dengan baik dan tepat, sampai melupakan rasa sakitnya sendiri. Karena itulah Pemerintah diharapkan memberi penghormatan terbaik bagi pejuang kemanusiaan tersebut,” lanjut Megawati.

Sementara itu, Sekjen DPP PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto, menjelaskan Alm Sutopo telah menjadi mitra kami yang sangat baik.

“Badan Penanggulangan Bencana (Baguna) PDI Perjuangan selama ini memiliki koordinasi dan kerjasama yang baik dengan BNPB. Semua tidak terlepas dari peran Alm Sutopo. PDI Perjuangan sungguh merasa kehilangan dengan sosok berdedikasi tersebut,” pungkas Hasto Kristiyanto.